( SMAJA MERAIH ASA )
SEJARAH ASAL-USUL DESA WOTSOGO KECAMATAN JATIROGO
KABUPATEN TUBAN
Tulisan ini merupakan karya siswa-siswi smaja Jatirogo
dalam menyelesaikan tugas penelitian
mata pelajaran sejarah. Cerita yang di sini masih sangatlah sederhana
sehingga perlu kajian lebih mendalam dengan tinjauan ilmiah, karena dalam
penggalian data terutama sumber sejarahnya hanya di dapat dari tradisi
lisan/tutur . Tradisi Lisan yaitu pesan atau kesaksian yang di sampaikan
secara turun temurun dari satu generasi ke generasi seterusnya. Dalam hal ini
cerita yang di sampaikan merupakan bagian dari sejarah lokal yang mana akan
menjadi cikal bakal sejarah nasional, serta dapat menambah pengetahuan, wawasan
dan pengalaman tentang kebudayaan khususnya di kabupaten Tuban.
1.
Kronologi
Asal-Usul Desa Wotsogo menurut Kaur Desa setempat
WOTSOGO ,
dulu berasal dari nama pohon. Pohonnya disebut pohon Sogo sedangkan Wot dalam
kata jawa yang berarti Jembatan. Tokoh
pertama pendiri desa wotsogo ini adalah Mbah Buyut Sami seorang perempuan,
tetapi di lingkungan sekitar atau masyarakat kenal dengan sebutan Mbah Buyut
Santri. Kemudian terjadi perkembangan yang pesat akhirnya mbah buyut santri
dengan bantuan warga di buat jembatan.
Konon, dulu
pohon sogo banyak hidup di daerah wotsogo. Selain itu mbah buyut Santri
mempunyai petilasan, lokasi petilasan berada di lapangan sebelah Selatan dulu
hanya satu wilayah mbah buyut Santri
ingin mengembangkan wilayahnya dengan membuat jembatan. Tahun berdirinya
jembatan menurut peraturan daerah 1958, wotosogo merupakan desa pertama. Mbah buyut Sami dimakamkan di pemakaman umum
arah ke Selatan.
Perkembangan di
daerah petilasan mulai pesat yang akhirnya para masyarakat bermusyawarah dan
berunding untuk membangun sebuah desa dan jembatan. Setelah itu beberapa
masyarakat sepakat menamakan desa WOTSOGO. Kepala desa pertama di desa Wotsogo
bernama pak Ahmad. Tempat pertama mereka singgah dulunya bernama Klangon,
Klangon berasal dari kata Klangenan yang berarti Kesukaan.
2. Versi Lainnya menurut Warga setempat
2. Versi Lainnya menurut Warga setempat
Alkisah, Sunan
Bonang bersama pengikutnya ingin melakukan perluasan agama islam di wilayah
Tuban Selatan. Dalam perjalanan mereka terus melakukan dakwah kepada orang yang
mereka temui untuk masuk islam, hingga sampailah mereka di pinggir sungai yang
memiliki aliran yang cukup deras. Mereka harus menyeberangi sungai tersebut
untuk melanjutkan perjalanan, tetapi sungai itu tidak ada jembatan yang akan
mereka gunakan untuk menyeberang .
Mereka pun memikirkan bagaimana caranya
menyeberang tanpa membangun jembatan karena pasti akan memakan waktu yang cukup
lama. Saat itu Sunan Bonang melihat ada kayu yang cukup besar hanyut terbawa
arus Sunan Bonang mengutus para pengikutnya untuk menghentikan kayu tersebut.
Disaat mereka menghentikannya, para pengikut Sunan Bonang pun sadar bahwa kayu
itu bukan sembarang kayu melaikan kayu sogo , kayu langka yang dapat mengapung
di air.
Mereka menyuruh
Sunan Bonang untuk menaiki kayu tersebut dan menjaganya agar tidak tercebur ke
sungai. Sesampainya diseberang sungai mereka bingung, ingin diapakan kayu besar
itu. Sunan Bonang pun mendapat ide yang tidak di duga pengikutnya, supaya kayu
itu dapat berguna bagi masyarakat sekitar sungai tersebut.
Dengan
kesaktiannya, Sunan Bonang menanamkan kayu tersebut di tepi sungai agar kelak
kayu tersebut dapat di jadikan Wot (dudukan), masyarakat yang
mandi di sungai itu. Dan akhirnya Sunan Bonang menamai desa tersebut
dengan nama WOTSOGO yang artinya dudukan dari kayu sogo yang luar biasa. Dan
sampai sekarang kayu itu asih ada walaupun di terjang banjir besar,
kayu itu masih menancap dengan kuatnya.

